PUISI TOPOGRAFI WAWONII








TANAH KELAHIRAN

 

Bukan pasir di tepi bengawan

Bukan batu di puncak ancala

Bukan pula anasir jenggala

Ini tentang kelahiran tempat ku berdiri

 

Di mulai pelita sampai tenaga listrik

Kecil hingga jalan membesar

Cerita horor menjadi bioskop

Versi lama mengubah dunia

 

Dialek tak akan pudar

Caraku berdiri tak akan jatuh

Tekadku pun tak akan rapuh

Karena benih pati telah tumbuh

 

 

ANAK PULAU

 

Lahir dalam kandungan purnama

Gendongan ibu menjadi wibu

Berjalan mengikuti lajuan arus

Sulit untuk kembali bila tekat membulat

 

Pedang hidup dalam senjata

Air kelapa sebagai susu mandi kembang

Pimpinan sekekar pohon di bibir pantai

Tak ragu untuk menyerah...

 

Anak hebat...

Lincah mencuri waktu

Menjadikan tanah sebagai jantung

Mengusir biawak pandai berburu

Mengajak semut untuk menyerbu

 

 

KAMPUNG HALAMAN


Aku Ingin kembali...

Memetik hening ke dalam lara

Kemarin masih mendengung di telinga

Kemarin masih dapat rengkuh dalam kelana

Saat ini...

 

Dewasa ku tak dapat meraba silaunya udara

Bebatuan telah bermetamorfosis padat

Rumput merintih dalam kaki-kakinya

Perubahan hampir segalanya

Pohon menjadi pelita, buah menjadi bunga

 

Dasterku tak di anggap bagaskara lagi...

Wajah menguratpun telah di kalahkan pada pernik tikaman merah darah

Inginku peluk angan di balik papan rumahku...

Disana ada gulungan bambu

 

Disana ada ikatan yang kuat tak seperti karatan paku

Aku ingin kembali ke masa lampau yang memerah lekat pada kaleng susu

 

 

PULAU ATAS KELAPA

 

Menggunung melipat surya

Memenuhi ruang dengan tangkai menjulang tinggi

Dedaun jembatan sebagai penyebrangan

Swakarya hebat pada ruas-ruasnya

 

Bingkai terpajang meninggalkan cerita

Ada berbagai surga yang terpajang

Tak ada runtuhan daun, bahkan tangkai rapuh

Tak ada hitam yang melekat pada badannya

 


UNTUKMU PERAMPAS

 

Sampai kapan kau tegakkan bendera gelap di atas kaki kami...

Pulauku botak...

sungai menguning...

Rakyat mematung mengikuti arus...

 

Semesta pun telah lelah merundung oleh suara rombongan keluhan bisu

Siapa yang iba?

Gigi mengering meneriakan air yang di balas dengan jumlah angka

Longsor hampir menyapu rumah akibat keserakahan berjas hitam

Menempatkan kakinya di atas pundak rupiah.

 

Belum habis kebun...

Mereka telah menarik ikatan kami yang akan di jadikan senjata

Haruskah kobaran batu  menembus kepalamu agar topimu tak lagi kau rasakan

Hanya demi perut menggunungmu kau tega merampas segalanya

Ah sudahlah, mulut tak mampu membungkam



 PULAU WAWONII


Aku terlahir di pulau ini

Di latih untuk hidup mandiri

Belajar mengenal arti hidup

Agar dapat bertahan hidup


Oh pulau wawonii

Hutanmu memberiku penghidupan

Lautmu membuatku berkecukupan

Tanahmu subur untuk bercocok tanam

Karenamu aku hidup dengan tentram

 

Oh pulau wawonii

Bentukmu menyerupai hati

Sungguh engkau memikat hati

Para wisatawan akan jatuh hati

Keindahanmu damaikan hati

 

Di pulau ini aku dibesarkan

Di pulau ini pula aku dimakamkan

Wawonii, kampung halamanku

Wawonii, wita turuano reangku

 


AJARAN LELUHUR WAWONII


Di tanah Wawonii, yang kaya dan subur.

Tersemai ajaran leluhur, yang bijak dan tulus.

Empat prinsip yang tak pernah pudar.

Menghimpun, menyambung, berpijak, dan mengikat.

 

Mesepe kato ombole, kita satukan hati.

Menghimpun untuk melebarkan sayap persaudaraan.

Agar lebih luas, lebih erat, dan lebih kuat.

Rasa kekeluargaan yang tak pernah putus.

 

Meumpu kato ondau, kita sambungkan silaturahmi.

Menyambung agar lebih panjang, lebih erat, dan lebih kuat.

Rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang tak pernah pudar.

Kita lestarikan, kita hayati, dan kita jalankan.

 

Mepida kato malanga, kita berpijak untuk menggapai.

Harapan dan cita-cita yang agung, yang tinggi dan indah.

Kita berjuang, kita berusaha, dan kita berdoa.

Agar impian kita menjadi kenyataan.

 

Meboke kato moroso, kita ikatkan tali silaturahmi.

Saling mengikat agar lebih kuat, lebih akrab, dan lebih nyaman.

Hubungan kita yang tak pernah renggang.

Kita lestarikan, kita hayati, dan kita jalankan.

 

Ajaran leluhur Wawonii, yang bijak dan tulus.

Kita jalankan, kita hayati, dan kita lestarikan.

Agar kita menjadi masyarakat yang kuat, yang akrab, dan yang bahagia.

Dengan ajaran leluhur yang tak pernah pudar.


 

ADAT ISTIADAT WAWONII

  

Di Wawonii, tanah leluhur yang kaya.

Adat istiadat yang unik, menjadi warisan budaya.

Tinensuka, adat pernikahan suku Wawonii.

Menggabungkan kebudayaan, dengan kebahagiaan.

 

Pobasa-basa'a, tradisi selamatan yang sakral.

Mengucapkan syukur, atas nikmat yang diterima.

Pebokulua, tradisi upacara aqiqah yang penting.

Sebagai rasa syukur, atas kelahiran yang diberkahi.

 

Pepokolapasia, tradisi yang penuh makna.

Mengingatkan kita, pada kebesaran Tuhan yang tak terhingga.

Tehala, tradisi pembatalan nikah yang bijak.

Mengajarkan kita, pada pentingnya keputusan yang tepat.

 

Adat istiadat Wawonii, menjadi identitas yang kuat.

Menggambarkan kebudayaan, yang kaya dan unik.

Kita harus melestarikan, adat istiadat yang ada.

Agar kebudayaan Wawonii, tetap hidup dan berkembang.

 


  JALAN LINGKAR WAWONII

 

Di Wawonii, jalan lingkar mengajak kita berpetualang

Mengelilingi pulau, dengan keindahan yang tak tergambarkan

Dari gerbang Barat, riuh menyambut dengan hangat dan ramah

Menyambut kedatangan, dengan senyum yang lebar

 

Di Tengah, tangan melambai dengan gerakan yang lembut

Mengucapkan selamat datang, dengan hati yang tulus

Di Selatan, senyum menyapa dengan wajah yang ceria

Membuat kita merasa, seperti di rumah sendiri

 

Di Tenggara, angin sepoi-sepoi, dengan hembusan yang lembut

Membuat kita merasa, lebih santai dan lebih nyaman

Di Timur dan Timur Laut, gemuruh ombak seakan bersorak gembira

Mengiringi perjalanan, dengan suara yang merdu

 

Di Utara, kicau burung seakan melantunkan syair-syair

Menuntun kita kembali, di gerbang Barat Pelabuhan Langara

Selamat tinggal, dan sampai berjumpa lagi

Semoga kenangan indah, tetap terukir di hati

 


HARAPAN UNTUK WAWONII

 

Di Wawonii, bumi yang indah

Harapan tumbuh, seperti bunga yang mekar

Kemajuan pariwisata, pertanian yang makmur

Membawa kebahagiaan, kepada rakyat yang berjuang

 

Pantai-pantai yang biru, hijau hutan yang rimbun

Menjadi daya tarik, bagi wisatawan yang datang

Kemajuan infrastruktur, memudahkan akses

Membuka peluang, bagi masyarakat yang ingin maju

 

Pertanian yang maju, hasil panen yang melimpah

Membawa kebahagiaan, kepada petani yang bekerja keras

Kemajuan teknologi, memudahkan proses produksi

Meningkatkan kualitas, hasil pertanian yang dihasilkan

 

Wawonii, bumi yang kaya

Harapan tumbuh, seperti pohon yang menjulang tinggi

Wawonii, bumi yang indah, menjadi contoh kemajuan

Bagi Indonesia, dan dunia yang lebih luas

 

 

WAWONII LINGKARAN HATI EMAS

 

Di tengah lautan, terletak pulau yang indah

Wawonii, lingkaran hati emas, yang mempesona

Pantai-pantai yang putih, dan laut yang biru

Membuat hati ini tenang, dan jiwa yang damai

 

Gunung-gunung yang menjulang, dan hutan yang lebat

Menyimpan keindahan alam, yang tak terhingga

Sungai-sungai yang mengalir, dan air terjun yang indah

Membuat aku merasa hidup, dan penuh dengan energi

 

Wawonii, lingkaran hati emas, yang kaya akan budaya

Masyarakat yang ramah, dan hangat dalam menyambut

Kuliner yang lezat, dan kerajinan yang indah

Membuat aku merasa betah, dan tidak ingin berpisah

 

 

LAUT WAWONII

 

Di laut Wawonii, biru dan luas

Terumbu karang yang indah, mempesona

Ikan-ikan berlimpah, berenang dengan gembira

Membuat hati ini, takjub dan kagum

 

Air laut yang jernih, memantulkan sinar matahari

Membuat terumbu karang, semakin terlihat indah

Ikan-ikan kecil, bermain di antara terumbu

Membuat suasana, semakin meriah dan hidup

 

Laut Wawonii, kaya akan keindahan

Membuat siapa saja, takjub dan kagum

Terumbu karang yang indah, ikan-ikan yang berlimpah

Membuat laut Wawonii, menjadi surga bawah laut.

  

 

AIR TERJUN TUMBURANO

 

Di Pulau Wawonii, tersembunyi surga

Air Terjun Tumburano, keindahan alam yang mempesona

Deruan air yang jernih, mengalir deras

Membuat hati ini tenang, dan jiwa yang damai

 

Di permandian ini, aku merasakan kebebasan

Membasuh diri dengan air yang sejuk dan jernih

Menyegarkan tubuh dan jiwa, dari kelelahan

Membuat aku merasa hidup, dan penuh dengan energi

 

Air Terjun Tumburano, kau adalah keindahan

Yang tidak dapat aku ungkapkan dengan kata-kata

Kau adalah tempat yang sakral, yang membuat aku merasa dekat

Dengan alam, dan dengan diri sendiri

 

Semoga aku dapat kembali lagi

Ke permandian air terjun Tumburano yang indah

Untuk merasakan keindahan alam, dan kebebasan

Yang hanya dapat aku temukan di tempat ini

 

  

PANTAI KAMPA

 

Ombak biru menghantam pantai.

Pasir putih bersih terhampar luas.

Pantai Kampa, surga tersembunyi.

Keindahan alam yang bernilai.

 

Pohon kelapa berdiri tegak.

Menyediakan naungan dari sinar matahari.

Angin laut sejuk berhembus.

Membawa kesegaran dan ketenangan.

 

Di pantai ini, waktu terasa berhenti.

Karena keindahan alam yang mempesona.

Pantai Kampa, tempat yang tepat.

Untuk melepaskan diri dari kesibukan.

 

 

HUTAN WAWONII

 

Di Hutan Wawonii, lebat dan hijau

Tumbuhan subur, mempesona dan indah

Pohon cempedak berbuah lebat, manis dan harum

Membuat lidah ini, ingin segera mencicipinya

 

Daun melinjo menunggu, untuk dipanen

Dengan rasa yang khas, dan aroma yang sedap

Hutan Wawonii, kaya akan keindahan

Membuat siapa saja, takjub dan kagum

 

Burung-burung berkicau, di antara pepohonan

Membuat suasana, semakin meriah dan hidup

Hutan Wawonii, merupakan harta yang berharga

Membuat kita harus, melestarikan dan menjaganya.

 

 

TRADISI KOWEA TABAKO

 

Di tanah Wawonii, yang indah dan kaya.

Tersebar tradisi, yang sarat makna.

Kowea Tabako, undangan rokok yang suci.

Sebagai simbol persatuan, dan kekeluargaan yang erat.

 

Dengan rokok yang dihidangkan.

Masyarakat Wawonii, menunjukkan kasih sayang.

Tradisi ini, telah turun temurun.

Mengikat erat, hubungan antar sesama.

 

Kowea Tabako, lebih dari sekadar undangan.

Merupakan simbol, kebersamaan dan kesatuan.

Masyarakat Wawonii, dengan setia menjaga.

Tradisi ini, sebagai warisan budaya.

 

Marilah kita, menghargai tradisi ini.

Sebagai bentuk, persatuan dan kekeluargaan.

Kowea Tabako, akan terus hidup.

Sebagai simbol, kebersamaan dan kesatuan.



RENJANA DARI WAWONII

 

Aku tak ubahnya seperti pulau wawonii

Hidup sendiri diterpa kedahsyatan laut banda

Padahal aku sangat dekat dengan daratan sulawesi

Hanya selat tiworo yang membatasi

 

Cinta itu saling menopang dan melengkapi

Laksana air terjun tumburano

Yang melantunkan irama kesesuaian

Dan memberikan simfoni keselarasan

 

Kutahu cinta itu seperti mata air wungkolo

Menyuguhkan air nan sejuk dalam dekapan bebatuan

Biarlah rindu ini berlalu seperti arus sungai mosolo

Mengalir deras membentuk lekuk kehidupan yang indah

 


SYAIR PUTIK

 

Di pagar-pagar itu menyimpan setetes gerimis

Menyisakan genangan pada daun

Besok akan tabur menjadi bunga

Bunga berduri tapi tak akan membuatmu berdarah

 

Ia hanya bertenger seperti merpati

Di halaman hijau

Mencari warna-warninya

Yang sempat hilang saat kemarau

Jaringnya menjadi sarang laba-laba

Memercikkan teparan aroma

 

Kemarau biarlah menjadi kemarin

Membocorkan awan untuk subur

Menafsirkan syair-syair putik

Diantara benang emas berwarna putih



TINTA BERNYAWA

 

Goresan halus tetap bernyawa

Menjadi cerita sepanjang jejak

Mencari jalan penyambung hidup

Untuk kepompong menjadi sempurna...

 

Tinta terus mencucurkan dalam helaian

Menjadi keabadian disetiap langkah

Meracuni kebodohan yang terombang-ambing

Menghancurkan rantai kemiskinan...

 

Tetap ada untuk dapat hidup...

Kekal menyambut dalam lampiran

Tetap berkomat-kamit mencari arti

Karena genderang rucira selalu menanti

 

 

HIDUP TANPA MENGABAIKAN WAKTU

 

Matamu seperti panda...

Bibirmu mengering seakan kemarau melanda

Badanmu letih, sayu  tak berdarah...

Masihkah kau menyiksa dirimu untuk tetap hadir

Pada dunia gila

 

Sudah cukup waktu kau habiskan dengan percuma

Recehan telah punah terabaikan dengan jaring

Sudah cukup dunia lain membawamu,

Sampai lupa mengumpulkan koin-koinmu

 

Keluarlah dari permainanmu!

Yang merajakan hiburan

Yang mengagungkan keinginan

Masih ada cara lain untuk tidak dalam ketipuan

 


BOM IKAN

 

Bom melebur kedalam lautan

Barisan bubar tergesa-gesa kabur

Beberapa dari kami jatuh terkapar

Tak sedikit dari kami bertumpahan darah

 

Sirip kami tak dapat mengayun lagi

Ekor kami tak dapat mendorong lagi

Mana sanggup bangkit untuk menyerang

Keburu di tangkap oleh keserakahan manusia

 

Tuhan, aku pasrahkan diriku di cabik-cabik

Ditangkap mengabaikan anakku yang tercekik

Mereka pembunuh yang sulit menemukan mangsa

Hanya karena rupiah mempertaruhkan sejuta bangsa

 

Aku ikhlas, darahku habis tak sempurna

Lantas harus memendam kematian dalam kekeringan

Semua ini tidak akan berakhir,

Sebelum mendapatkan keadilan dari aparat

 

 

PAHLAWAN LADANG

 

Terik menguliti punggung

Menjunjung matahari di lapang sana

Keringat menghanyutkan nyamuk-nyamuk

Menyiram lantai-lantai tanah berharap mendapatkan santapan

Esok hari

 

Bukan untuk saat ini saja...

Alat tempur terus melilit di kepala

Cangkul melaju meratapi malam hampir tiba

Langkah menggelitik tak sabar segera usai

Pertempuran tetap beradu sebelum bendera hitam datang

 

Kemenangan ini bukan milikku saja...

Tunas ternanti untukmu

Jangan berpura-pura menatap nasib

Segelas air keringat telah tumbuh,

Untuk menghilangkan dahagamu

 

 

PANTAI

 

Perahu bersandar di telaga biru

Cakrawala tersenyum manis

Kidung berkicau di atas awan

Ku berlari di bawah surga

 

Air menari di atas pasir

Getaran ombak tersenyum

Gurauku hanyut oleh gulungan lautan

Langit merdu meneduhkan kekacauan

 

Ku tak ingin pergi...

Karena ketenanganku ada di antara ketiak pantai

Memberi nafas panjang tanpa tersedak

Untuk terus berlari mengelilingi angkasa

 

 

MENUNGGU WAKTU

 

Cicak merangkak di dasar tembok

Entah sedang mencari makan,

Atau sedang berkelana.

Melihatnya sudah cukup bosan

Di tambah lagi dengan suguhan lampu remang

 

Asap racun terus meliuk di udara

Bukan membuat nyamuk pergi

Tapi untuk membuatku sesak

Sesaat lamunan tersadar...

Aku sedang menunggu waktu

 


SECANGKIR HIDUP

 

Aroma menyengat

Saat mataku masih menutup

Gelisahku ingin menarik asap

Tubuhku bangkit mengikuti penyihir itu

Yang telah terbiasa tanpa alpa di pagi hari

 

Tak ingin terlalu lama, ku mengeluh

Di dalam hangatnya secangkir hitam

Tentang pekatnya hidup tak sepekat

Dirinya...

Karena diriku masih melintas di atas

Kerikil tajam hanya sekedar mencari pemanis

 

 

BERCERITA

 

Purnama padam di ruang tamu

Air terus memukul atapku

Suara peluru terus menggali tanah

Pejaman mata caraku menghindar

 

Ku yakinkan wujud misterius

Bibirku mulai lontang-lanting

Membuka peristiwa yang kelam

Matanya melotot, rambutnya memanjang

 

Ia memeluk bahu meja

Menutup telinga, mengusir tubuhku

Hahaha... Penakluk petir penakut

Lebih baik  mengayun mimpi dalam selimut

 

 

KEPARAT

 

Noda membatu di bajumu

Setan tongkrongan pujamu

Bertenger seperti raja di sudut jalan

Lebih pantas di sebut binatang

 

Seribu letusan petasan

Bahkan pecahan kaca pun

Tak menyentuh daun-daun telinga

Keparat-keparat tak bertuhan

 

Penunggu harta karung

Melipat tangan tanpa gagal

Pecinta bangkai tak patut di kursikan

Mereka beranak tangga...

Untuk diakui tanpa mengakui kuah-kuah kebohongan

 

 

PEMUDA NELAYAN

 

Pertama kalinya ku merakit perahu

Membentangkan bayangan tak sabar untuk berkeliaran,

Di pekat malam ku meraba dinding-dinding yang akan

mengantarkanku berlayar...

Sebelum menyentuh lautan, dadaku sempat menaburkan melati

 

Seorang pemuda sepertiku, berjuang demi harga diri...

Tak peduli gelap menjadi jahat

Jika nanti ombak menggulung tubuhku, mataku terbusur air garam, juga ikan-ikan menggilingku ke dalam mulut perisainya.

Akan ku bawa perahuku di seberang samudra sebelum lautan menjadi surut

 

Perahuku melaju meski dayungku tak lagi berkutik

Kakiku tetap berjalan meski kerang-kerang telah menggantung di antara kulit-kulitku...

Seorang pemuda beroti sobek bersenjata tombak tak akan menangisi

Detik-detik keputusan di tengah keputusan orang lain

 

  

TAWA YANG BELUM KERING

 

Di bilik bambu ku tersedu

Menatap balik debu yang merangkak di pelepah jendela,

Mungkin saja ingin berbisik.

Bagaimana aku pernah bersama jejak-jejak telapak tangan.

 

Belum sempat debu meracik cerita

Telah datang hujan menjemput silih berganti,

Di sana aku melihat genangan wajah  yang merangkulku.

Ini bukan tentang cinta tapi tawa yang masih belum kering

 

 

AKU DAN LAUT

 

Inilah aku

Dengan duniaku yang kubuat sendiri

Terlahir dari rahim samudera

Tertidur di atas buaian gelombang pasang

Bernyanyi bersama alunan riuh gemuruh

Angin dan arus pasang surut kehidupan bayu

Tumbuh bersama ikan dan karang

 

Inilah aku dengan duniaku

Aku cukup dengan kerlap-kerlip bintang di malam hari

Bermain dan berenang bersama camar dan ikan-ikan

Mengayuh perahuku sesuka hati tanpa harus taat pada aturan lalulintas

 

Duniaku bebas kubuat sendiri

Dan aku tidak perlu takut jatuh dan terluka

Sebab laut tak akan melukaiku

Ia adalah ibu juga bapakku

Ia pula adalah saudaraku

Ia adalah jua aku

 

Menghabiskan waktu bersamanya

Aku lupa waktu

Panas terik bukan masalah bagiku

Dinginnya laut memberiku kesejukan

 

 

BELAJAR DARI WAKTU

 

Jam itu masih berdetak

Meghitung waktu satu demi satu

Tiada henti menyelesaikan tugasnya

Mengingatkan waktu tanpa jenuh

 

Sementara tumpukan sepatu

Tersusun di sudut ruang yang kosong

dan deretan buku-buku yang tertata rapi

Pada rak-rak kayu jati

 

Belajar dari waktu

Menyusun hidup pada setiap deretan-deretan

Peluang menjadi berarti

Sebab hidup dan mati hanya sekali

Setelah itu menjadi kenangan

Hitam atau putih bagi yang tertinggal

Pada hidup yang telah tiada

 

 

TUNTUN AKU


Kuharap kau mau menuntunku

Di jalan yang terguyur ini

Aku resah

Jalan itu sepertinya tak ramah

 

Mungkinkah sebab ia telah lelah

Menanggung dosa-dosa penapaknya

Yang telah membebaninya

 

Atau karena ia terlampau bahagia

Ketika hujan mencuci punggungnya

Yang telah kotor

Dari angkuh para penapak yang tidak peduli

 

Komentar

Postingan