SEJARAH PERADABAN PULAU WAWONII

Kepemimpinan Adat/Suku Wawonii (Wawonii Chiefdom)


1. Perspektif Arsip Kolonial Belanda 📜

Dalam catatan administrasi Hindia Belanda (terutama Koloniale Verslagen, Memorie van Overgave residen Manado/Kendari, dan korespondensi VOC abad ke 18–19), Wawonii tercatat sebagai wilayah strategis dengan dua karakteristik utama:

* Status Kewilayahan yang Fluktuatif: Belanda awalnya mengakui Wawonii sebagai wilayah yang berada dalam sfera pengaruh Buton dan Konawe secara bergantian. Sejak awal abad ke-20, Belanda secara administratif memasukkannya ke dalam Onderafdeeling Kendari, tetapi tetap membiarkan struktur kepemimpinan adat (Mokole/Lakino) berfungsi sebagai perantara pemungutan pajak hasil bumi (terutama kopra, damar, dan hasil laut).

* Politik Devolusi & Pengakuan Mokole/Lakino: Arsip menunjukkan bahwa Belanda tidak membubarkan Pemerintahan Tangkombuno, melainkan melakukan contract politiek (perjanjian politik) dengan tokoh adat setempat. Belanda mencatat adanya struktur Mokole/Lakino (pemimpin tertinggi), Kapita (wakil wilayah/panglima), dan Bonto (pengurus sipil) yang dipertahankan untuk stabilitas logistik dan keamanan jalur pelayaran Selat Buton–Laut Banda.

* Catatan Ekonomi: Laporan kolonial menyebut Wawonii sebagai "pulau kelapa" dengan perkebunan rakyat yang produktif. Belanda memperkenalkan sistem pajak hasil (cultuurstelsel ringan) dan mendorong produksi kopra untuk pasar Eropa, yang secara tidak langsung mengubah pola agraris dan integrasi ekonomi lokal ke jaringan perdagangan global.

2. Perspektif Temuan Arkeologi 🏺

Bukti material memperkuat bahwa Wawonii bukan sekadar "wilayah pinggiran", melainkan pusat hunian yang telah terorganisir sejak masa prasejarah:

* Situs Gua & Hunian Prasejarah: Survei arkeologi menemukan sisa okupasi manusia di beberapa gua pantai dan ceruk karst, berupa serpihan alat batu, tulang fauna laut, serta jejak aktivitas ritual. Ini menunjukkan hunian kontinu sejak masa berburu-meramu hingga awal domestikasi.

* Benteng Batu & Permukiman Terpilih: Peninggalan paling menonjol adalah Benteng Kontara Tangkombuno dan sisa struktur pertahanan serupa di pesisir. Dibangun dari susunan batu karang, tanah liat, dan kayu ulin, benteng ini bukan hanya instalasi militer, tetapi juga pusat permukiman elit, tempat penyimpanan logistik, dan simbol otoritas politik. Teknik konstruksi menunjukkan pemahaman topografi, drainase, dan strategi pertahanan laut.

* Jejak Megalitik & Pemakaman Kuno: Beberapa situs batu berdiri (megalit sederhana) dan kompleks pemakaman berundak mengindikasikan sistem kepercayaan leluhur yang terstruktur, serta hierarki sosial yang menghormati garis keturunan pemimpin.

* Artefak Perdagangan: Temuan pecahan gerabah lokal, manik-manik kaca, dan sisa logam menunjukkan partisipasi Wawonii dalam jaringan perdagangan maritim Nusantara sejak abad pertengahan, sebelum kontak intensif dengan kekuatan kerajaan besar di sekitarnya.

3. Perspektif Sejarah Kerajaan Bungku

Kerajaan Bungku (berpusat di pesisir timur Sulawesi Tengah–Sultra) memiliki hubungan maritim yang erat dengan Wawonii:

* Jalur Perdagangan & Pertukaran Budaya: Bungku dikenal sebagai penghubung dagang antara Teluk Tomini, Laut Maluku, dan Selat Buton. Wawonii menjadi salah satu titik persinggahan dan pusat penyediaan logistik (kelapa, sagu, hasil laut) bagi armada Bungku.

* Pengaruh Politik Terbatas: Catatan lisan dan beberapa arsip menyebutkan adanya klaim pengaruh Bungku di wilayah timur Wawonii, terutama melalui aliansi perkawinan antar bangsawan dan pertukaran upeti simbolis. Namun, Wawonii tidak pernah sepenuhnya tunduk secara administratif; sistem Mokole/Lakino tetap berdiri mandiri.

* Warisan Budaya: Beberapa kosakata, motif tenun, dan ritus laut di Wawonii menunjukkan akulturasi dengan tradisi Bungku, terutama dalam teknik navigasi, pembuatan perahu, dan pengelolaan sumber daya pesisir.

4. Perspektif Sejarah Kesultanan Buton

Kesultanan Buton (Kerajaan Wolio) merupakan kekuatan maritim paling dominan di kawasan ini, dan hubungannya dengan Wawonii paling terdokumentasi:

* Klaim Kedaulatan & Status Tributari: Sejak abad ke 16–17, Buton memperluas pengaruh ke pulau-pulau sekitarnya, termasuk Wawonii. Dalam kronik Buton dan perjanjian dengan VOC, Wawonii sering disebut sebagai wilayah yang membayar upeti atau mengakui suzerinitas Buton, terutama dalam hal keamanan pelayaran dan monopoli dagang tertentu.

* Penyebaran Islam & Reformasi Adat: Buton membawa pengaruh Islam yang secara bertahap berakulturasi dengan kepercayaan lokal. Beberapa struktur adat Wawonii menyerap istilah dan tata krama birokrasi Buton, meskipun sistem kepemimpinan Mokole tetap dipertahankan dengan penyesuaian nilai.

* Ketegangan & Otonomi Lokal: Meski secara formal berada dalam "lingkaran pengaruh" Buton, Wawonii sering kali mempertahankan otonomi praktis. Ketika kekuatan Buton melemah (abad ke 18–19 akibat konflik internal dan tekanan kolonial), Wawonii kembali mengonsolidasikan kekuasaan adatnya tanpa sepenuhnya melepaskan ikatan dagang dan kultural.

5. Perspektif Sejarah Kerajaan Konawe

Kerajaan Konawe (berbasis suku Tolaki di daratan Sulawesi Tenggara) memiliki klaim teritorial dan demografis yang kuat atas Wawonii:

* Ekspansi & Migrasi Tolaki: Sejak abad ke-17, Konawe melakukan ekspansi ke arah pesisir dan pulau-pulau terdekat. Banyak keluarga Tolaki bermigrasi ke Wawonii, membuka permukiman, dan mendirikan "kampung Tolaki" yang hingga kini masih menjadi bagian dari mosaik demografis pulau.

* Persaingan Klaim dengan Buton: Konawe dan Buton pernah bersitegang mengenai status Wawonii. Dalam beberapa periode, Konawe berhasil menegaskan pengaruh politiknya melalui aliansi dengan Mokole setempat, sementara Buton tetap menguasai jalur dagang laut. Belanda kemudian memanfaatkan dinamika ini untuk kebijakan divide et impera yang halus.

* Integrasi Administratif Era Kolonial: Pada abad ke-19–20, Belanda secara resmi memasukkan Wawonii ke dalam wilayah administrasi yang berafiliasi dengan Konawe/Kendari. Namun, dalam praktik sehari-hari, hukum adat Wawonii (Tangkombuno) tetap berlaku untuk urusan internal, pertanahan, dan upacara siklus hidup.


🔍 Berdasarkan penelusuran terhadap arsip kolonial, berikut sejarah pemerintahan Wawonii serta keterkaitannya dengan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya (Kulisusu, Tiworo, Moronene, dan Mori). Penyusunan ini mengacu pada pola administrasi Hindia Belanda, sistem Barata Buton, serta jaringan kekerabatan dan perdagangan maritim nusantara bagian timur.

1. Struktur Pemerintahan Wawonii (Tangkombuno) 

Secara administratif tradisional, Tangkombuno diperintah oleh Pemimpin yang diberi gelar Mokole atau Lakino. Struktur ini bersifat desentralistik namun terikat oleh konsensus adat:

• Mokole/Lakino : Pemimpin tertinggi, memegang otoritas spiritual, politik, dan yudisial.

• Kapita : Wakil wilayah/panglima yang mengatur pertahanan, logistik, dan mobilisasi rakyat.

• Bonto : Pejabat sipil yang mengurus pertanian, pajak hasil bumi (kelapa, damar, sagu), dan hubungan antar-kampung.

• Sistem Kampung : Permukiman tradisional dikelompokkan berdasarkan garis keturunan atau asal migrasi, masing-masing dipimpin oleh "mole awo" (tetua adat) yang bertanggung jawab kepada Mokole/Lakino.

Pemerintahan ini tidak bersifat absolut. Keputusan strategis selalu melalui musyawarah adat yang melibatkan seluruh pemimpin kampung (mole awo).

2. Keterkaitan dengan Kerajaan-Kerajaan Kecil Sekitar 

🔹 A. Kerajaan Kulisusu & Kerajaan Tiworo (Dalam Jaringan Barata Buton)

Kulisusu dan Tiworo secara historis merupakan bagian dari sistem Barata (kerajaan bawahan/swatantra) di bawah Kesultanan Buton. Hubungan mereka dengan Wawonii bersifat komersial, kultural, dan politis terbatas:

* Status Tributari & Perdagangan: Wawonii tidak pernah secara resmi masuk sebagai Barata Buton, tetapi secara periodik mengakui suzerinitas Wolio melalui pembayaran upeti simbolis (biasanya hasil laut, kopra, atau kayu) sebagai imbalan atas perlindungan jalur pelayaran dari bajak laut.

* Migrasi & Kekerabatan: Catatan lokal menyebutkan arus migrasi dari Kulisusu ke Wawonii pada akhir abad ke-19 (rombongan La Ode tahun 1897) yang membuka permukiman baru di pesisir timur. Perkawinan silang antara bangsawan Kulisusu/Tiworo dengan keluarga adat Wawonii memperkuat jaringan diplomasi informal.

* Pengaruh Administratif: Saat Belanda menguasai wilayah ini (awal abad ke-20), Kulisusu dan Tiworo sudah terintegrasi ke dalam Onderafdeeling Buton, sedangkan Wawonii masuk ke Onderafdeeling Kendari. Perbedaan zona administrasi ini memisahkan jalur birokrasi resmi, namun ikatan dagang dan budaya tetap hidup melalui pelabuhan tradisional.

🔹 B. Kerajaan Moronene

Moronene adalah entitas kerajaan/suku besar yang mendiami wilayah daratan Sultra bagian tengah-selatan (sekitar Bombana, Rumbia, dan Rawa Aopa). Keterkaitannya dengan Wawonii lebih bersifat etnolinguistik dan migratif:

* Rumpun Budaya Tolaki-Moronene-Bungku-Mori: Secara antropologis, masyarakat Wawonii memiliki kedekatan linguistik dan kultural dengan Moronene. Keduanya berbagi kosakata dasar, pola permukiman pesisir-daratan, serta tradisi lisan yang mirip.

* Jaringan Perdagangan & Migrasi Nelayan-Petani: Moronene dikenal sebagai penyedia sagu, beras, dan hasil hutan yang dipertukarkan dengan kelapa, ikan asin, dan garam dari Wawonii. Arus migrasi keluarga Moronene ke Wawonii terjadi secara bertahap sejak abad ke-18, membentuk kantong permukiman yang tetap mempertahankan adat asal namun berakulturasi dengan struktur Tangkombuno.

* Tidak Ada Subordinasi Politik: Tidak ada bukti arsip maupun tradisi lisan yang menunjukkan Wawonii pernah berada di bawah kekuasaan Moronene, atau sebaliknya. Hubungan bersifat simbiosis ekonomi dan kekerabatan, bukan hierarki politik.

🔹 C. Kerajaan Mori

Kerajaan Mori terletak di pesisir timur Sulawesi Tengah (berdekatan dengan Bungku dan Tomoni). Keterkaitannya dengan Wawonii bersifat tidak langsung namun signifikan secara kultural dan maritim:

* Jalur Pelayaran & Pertukaran Budaya: Mori dan Bungku merupakan bagian dari jaringan maritim yang menghubungkan Teluk Tomini dengan Laut Banda. Wawonii menjadi salah satu titik persinggahan alami bagi armada yang melintas. Dari sinilah terjadi pertukaran teknik pembuatan perahu, motif ukir, dan unsur ritual laut.

* Kesamaan Istilah & Tradisi: Beberapa tradisi Wawonii (seperti tarian Lense/Lumense, struktur panggilan adat, dan ritual syukur panen) memiliki kemiripan dengan praktik masyarakat Mori dan Bungku. Hal ini mengindikasikan kontak budaya jangka panjang melalui perdagangan dan perkawinan, bukan penaklukan politik.

* Posisi sebagai Penyangga (Buffer Zone): Dalam peta pengaruh kolonial dan pra-kolonial, Wawonii berfungsi sebagai wilayah penyangga antara kekuatan daratan (Konawe/Mori/Bungku) dan kekuatan maritim (Buton/Tiworo/Kulisusu). Mokole/Lakino Wawonii secara aktif menjaga netralitas praktis agar pulau tidak menjadi medan konflik terbuka.

3. Transformasi Masa Kolonial dan Pasca-Kemerdekaan 

* Era Hindia Belanda (1905–1942): Belanda mengklasifikasikan Wawonii sebagai Landschap Wawonii di bawah Onderafdeeling Kendari. Struktur Mokole dipertahankan sebagai perantara pemungutan pajak kopra dan logistik. Kerajaan Kulisusu & Tiworo masuk administrasi Buton, sementara Mori & Moronene berada di zona pengaruh tersendiri. Perbedaan ini memutus ikatan politik tradisional, namun jaringan dagang informal tetap berjalan.

* Era Jepang & Revolusi: Wawonii menjadi pos pengamatan dan logistik. Struktur adat digunakan Jepang untuk mobilisasi tenaga kerja, sementara pemimpin lokal memanfaatkan momentum untuk memperkuat otonomi kampung.

* Era Modern: Setelah kemerdekaan, Wawonii masuk Kabupaten Konawe, kemudian memekarkan diri menjadi Kabupaten Konawe Kepulauan (2013). Pemerintah daerah secara resmi mengakui keberadaan struktur adat Tangkombuno sebagai mitra dalam pengelolaan wisata budaya, sengketa tanah adat, dan pelestarian kearifan lokal.


🔍 Berdasarkan penelusuran arsip, kajian linguistik historis, tradisi lisan, dan dokumentasi akademik (termasuk penelitian dari Universitas Halu Oleo, IAIN Kendari, dan Balai Bahasa Sulawesi Tenggara), berikut adalah sejarah awal pembentukan suku dan bahasa Wawonii serta proses awal masuknya Islam ke pulau Wawonii.

1. Awal Terbentuknya Suku Wawonii 

Pembentukan identitas etnis Wawonii bersifat gradual dan maritim, bukan hasil migrasi tunggal atau penaklukan mendadak. Prosesnya dapat dibagi menjadi tiga fase utama:

Fase Periode Dinamika Pembentukan ⏩

1. Hunian Awal & Adaptasi Lokal (1500 SM – 500 M)   

Kelompok penutur Austronesia awal menghuni pulau, mengembangkan pola subsisten pesisir-daratan (nelayan, peladang, pengumpul sagu/kelapa). Isolasi geografis relatif memunculkan diferensiasi budaya dari daratan utama.

2. Kontak & Percampuran Etnis (500 – 1500 M)

Arus migrasi bertahap dari daratan Sulawesi Tenggara (Tolaki, Moronene), Kepulauan Muna-Buton, dan pedagang Bugis-Makassar menciptakan lapisan demografis baru. Perkawinan silang, aliansi kampung, dan pembagian peran ekonomi (laut vs darat) memadukan identitas menjadi satu kesatuan komunitas pulau.

3. Konsolidasi Identitas Adat (Abad ke 16 – 18)

Pembentukan struktur kerajaan adat Tangkombuno, kodifikasi hukum adat, dan penegasan garis keturunan Mokole/Lakino memperkuat batas identitas "Wawonii" yang berbeda dari tetangga daratan maupun kepulauan lain.

Suku Wawonii tidak terbentuk melalui penyeragaman paksa, melainkan melalui jaringan kekerabatan, adaptasi ekologis, dan diplomasi maritim yang memungkinkan mereka mempertahankan otonomi budaya di tengah pengaruh kekuatan regional (Buton, Konawe, Bungku).

2. Asal-Usul & Klasifikasi Bahasa Wawonii 

Bahasa Wawonii termasuk rumpun Austronesia → Cabang Sulawesi → Subkelompok Bungku-Tolaki Timur (Eastern Bungku-Tolaki). Berikut ciri pembentukannya:

* Akar Linguistik: Berbagi leksikon dasar dan struktur tata bahasa dengan bahasa Tolaki, Mori, Kulisusu, dan Moronene. Beberapa peneliti awal pernah mengklasifikasikannya sebagai "dialek Tolaki", namun kajian komparatif modern (termasuk data Ethnologue dan Joshua Project) menempatkannya sebagai bahasa mandiri dalam subkelompok yang sama, karena perbedaan fonologis, morfologis, dan sistem preposisi yang khas.

* Proses Diferensiasi: Isolasi kepulauan + kontak intensif dengan pelaut Buton/Bugis + pergeseran mata pencaharian menghasilkan kosakata baru (istilah pelayaran, kelapa, ritual laut) dan penyerapan fonem asing, sementara fitur Austronesia purba (seperti sistem fokus verba dan klitik posesif) tetap bertahan.

* Variasi Internal: Terdapat variasi dialektal halus antara pesisir barat, timur, dan pedalaman, dipengaruhi oleh intensitas kontak dengan pedagang Buton/Bugis (pesisir) vs. masyarakat daratan Tolaki/Moronene (pedalaman).

* Status Kini: Masih dituturkan terutama oleh generasi tua dan dalam upacara adat. Pemerintah daerah dan lembaga bahasa tengah mendokumentasikan kosakata, tata bahasa, dan cerita rakyat untuk muatan lokal dan revitalisasi budaya.

3. Awal Mula Masuknya Ajaran Islam ke Pulau Wawonii 🕌

Islam tidak masuk ke Wawonii melalui penaklukan militer, melainkan melalui jaringan perdagangan, perkawinan, dakwah kultural, dan aliansi politik yang berlangsung antara abad ke-16 hingga ke-18. Prosesnya bersifat berlapis dan akomodatif:

🔹 Saluran & Jaringan Masuknya Islam

1. Jalur Buton-Wolio: Kesultanan Buton yang telah memeluk Islam resmi (abad ke-16) menjadikan Wawonii sebagai persinggahan logistik dan titik pengaman jalur Selat Buton. Ulama dan pedagang Buton membawa kitab, praktik fikih dasar, serta tata krama birokrasi Islam yang perlahan diadopsi elit lokal.

2. Jalur Bugis-Makassar (Khususnya Bone): Tradisi lisan dan catatan akademik (IAIN Kendari, 2024) menyebutkan bahwa sebagian ajaran Islam awal dibawa oleh pedagang/ulama dari Bone (Sulawesi Selatan) yang bekerja sama dengan tetua adat setempat (namambo pasaho). Mereka menyebarkan tauhid, shalat, dan puasa melalui pendekatan kultural, bukan pemaksaan.

3. Jalur Ternate-Tidore & Mori-Bungku: Armada dagang dari Maluku Utara yang singgah di pesisir timur membawa unsur tasawuf dan praktik zikir yang kemudian menyatu dengan ritual tolak bala lokal.

🔹 Pola Akulturasi & Sinkretisme Awal

* Islam tidak menggantikan kepercayaan leluhur secara langsung, melainkan melapisinya. Praktik seperti Pompaka (ritual penghormatan leluhur/penjaga tempat) tetap dipertahankan namun diberi bingkai doa Islam, selamatan, dan pembacaan ayat-ayat tertentu.

* Struktur adat Mokole/Lakino tidak dihapus, melainkan disesuaikan: gelar kepemimpinan tetap, tetapi sumpah jabatan mulai disertai bacaan syahadat dan perjanjian yang mengacu pada prinsip keadilan Islam.

* Pembangunan masjid pertama bersifat sederhana (berbahan kayu/kapal tua) dan sering berlokasi di dekat makam leluhur atau pusat kampung, mencerminkan kontinuitas sakral ruang.

🔹 Konsolidasi (Abad ke 19 – Awal ke 20)

* Laporan kolonial Belanda (awal 1900-an) mencatat bahwa mayoritas penduduk pesisir Wawonii telah mengidentifikasi diri sebagai Muslim, dengan praktik shalat Jumat, puasa Ramadhan, dan perayaan Maulid/Nisfu Sya'ban yang terlembaga.

* Wilayah pedalaman masih mempertahankan unsur kepercayaan animis-dinamis lebih lama, namun perlahan terislamisasi melalui pernikahan lintas kampung, dakwah keliling ulama lokal, dan integrasi ke jaringan pendidikan pesantren sederhana yang tumbuh di Kendari dan Baubau.

🗣️ Apakah pemerintahan Mokole/Lakino Wawonii tidak memiliki benteng, istana dan singgasana? 

Pertanyaan ini sangat penting karena menyentuh perbedaan mendasar antara konsep kekuasaan "istana-singgasana" (yang sering diasosiasikan dengan budaya Jawa/Melayu) dengan konsep kepemimpinan asli Sulawesi Tenggara.

Faktanya, pemerintahan Mokole/Lakino Wawonii tidak benar-benar "tanpa" pusat kekuasaan, tetapi bentuk dan filosofinya berbeda. Tidak adanya kompleks istana batu dan singgasana kayu ukir megah bukanlah tanda keterbelakangan, melainkan cerminan dari sistem politik, arsitektur, dan nilai sosial yang khas. 

Berikut penjelasannya berdasarkan rekam jejak sejarah dan antropologi budaya:

1. Perbedaan Filosofi Kekuasaan: Primus Inter Pares vs. Raja Mutlak 🔍

* Konsep Singgasana & Istana biasanya lahir dari sistem kerajaan yang mengadopsi paham divine kingship (raja sebagai wakil dewa/tuhan di bumi) atau birokrasi feodal terpusat. Kekuasaan divisualisasikan melalui jarak fisik (balairung, pelataran berundak, tahta tinggi).

* Sistem Mokole/Lakino Wawonii bersifat konsensual dan kolektif. Mokole/Lakino berfungsi sebagai primus inter pares (yang pertama di antara sesama), bukan penguasa mutlak. Legitimasi kekuasaan berasal dari:

• Garis keturunan yang diakui tetua adat (mole awo)

• Kemampuan memimpin musyawarah & menyelesaikan sengketa

• Kesepakatan dengan Kapita dan Bonto

• Karena kekuasaan tidak bersifat "sakral-terpisah", tidak diperlukan ruang istana yang mengisolasi pemimpin dari rakyat. Pusat keputusan justru ada di balai adat dan ruang terbuka kampung.

2. Tradisi Arsitektur: Material Organik & Fungsi Komunal 🏡

* Bangunan tradisional Wawonii (seperti sebagian besar masyarakat Austronesia timur) menggunakan kayu, bambu, ijuk, dan daun rumbia. Material ini mudah lapuk oleh cuaca tropis, kelembapan laut, dan serangan rayap, sehingga tidak bertahan ratusan tahun tanpa perawatan intensif.

* Benteng Kontara Tangkombuno memang ada, tetapi fungsinya bukan sebagai "istana kerajaan". Ia adalah struktur pertahanan komunal & permukiman strategis yang memanfaatkan kontur alam, gua, dan susunan batu karang. Di dalamnya terdapat area tinggal, lumbung, dan ruang ritual, bukan balairung singgasana.

* Rumah Mokole/Lakino secara arsitektur tidak jauh berbeda dengan rumah tetua adat lainnya: lebih luas atau berada di posisi strategis, tetapi tetap menggunakan prinsip rumah panggung tradisional yang mudah dibongkar-pasang, sesuai dengan budaya maritim yang mobilitasnya tinggi.

3. Adaptasi Sosio-Geografis & Gaya Hidup Maritim 🌊

* Wawonii adalah pulau dengan akses laut yang luas, rawan konflik antarkelompok, bajak laut, dan kemudian tekanan kolonial. Masyarakat lebih memprioritaskan struktur pertahanan (benteng, pos pengamatan, jalur evakuasi) daripada bangunan seremonial.

* Pola permukiman tersebar mengikuti sumber daya (pesisir untuk nelayan, pedalaman untuk peladang). Tidak ada "kota kerajaan" terpusat yang memerlukan istana megah sebagai simbol administratif.

* Kekuasaan dijalankan secara desentralistik: setiap kampung/wilayah memiliki otonomi adat, sehingga Mokole/Lakino lebih sering melakukan kunjungan lapangan (turun gunung/menyusuri pantai) daripada duduk di singgasana.

4. Faktor Historis & Kebijakan Kolonial 📜

* Kebijakan Hindia Belanda (awal abad ke-20) secara sistematis mengurangi simbol-simbol kedaulatan tradisional untuk mencegah mobilisasi perlawanan. Struktur Mokole/Lakino dipertahankan hanya sebagai perantara pajak & logistik, bukan sebagai entitas politik independen yang boleh membangun pusat kekuasaan monumental.

* Perang, pembakaran kampung, dan perpindahan penduduk pada masa konflik antarkerajaan, pendudukan Jepang, hingga era revolusi fisik menyebabkan banyak bangunan adat (termasuk rumah Mokole/Lakino generasi awal) hilang atau tidak terawat.

* Modernisasi & perubahan mata pencaharian pasca 1950-an menggeser fokus dari pemeliharaan rumah adat ke bangunan fungsional (sekolah, balai desa, masjid), sehingga jejak fisik pusat pemerintahan tradisional semakin memudar.

Klarifikasi Penting: Apakah Benar-Benar "Tidak Ada" (Benteng, Istana dan Singgasana)? 

Simbol Kekuasaan Realitas di Wawonii

Benteng→ ✅ Ada : Benteng Kontara Tangkombuno (pertahanan & permukiman komunal).

Istana/Rumah Mokole/Lakino→ ✅ Ada : dalam bentuk rumah adat & balai musyawarah, tetapi berbahan organik & tidak monumental.

Singgasana→ ❌ Tidak ada : dalam arti "tahta kayu ukir berukir naga/motif istana". Kekuasaan diwujudkan melalui tempat duduk Mokole/Lakino di balai adat, tombak pusaka dan kain adat.

Dalam budaya Sulawesi Tenggara (termasuk Tolaki, Moronene, Bungku, dan Wawonii), legitimasi politik tidak diukur dari kemegahan bangunan, melainkan dari penguasaan ritual, kearifan memimpin, jaringan kekerabatan, dan kemampuan menjaga harmoni alam-masyarakat.

Berdasarkan kajian sejarah lokal, antropologi budaya Sulawesi Tenggara, dan rekam jejak administrasi kolonial, pemerintahan Mokole/Lakino Wawonii pada dasarnya merupakan sistem adat tradisional (chiefdom/sistem kepemerintahan adat) yang bersifat konsensual dan berbasis kekerabatan. Dalam perkembangannya, sistem ini mengalami lapisan akulturasi: menyerap beberapa tata krama bernuansa "kerajaan" dari pengaruh regional, serta mengintegrasikan nilai-nilai Islam secara kultural, namun tidak berubah menjadi sistem kerajaan feodal maupun sistem imamah teokratis.

Berikut penjelasan komparatif mengapa demikian:

1. Mengapa Bukan Sistem Kerajaan (Monarki Feodal)? 👑

Sistem kerajaan klasik (seperti model Jawa, Melayu, atau Buton inti) biasanya bercirikan:

* Hierarki kaku dengan istana/balairung sebagai pusat kekuasaan mutlak

* Legitimasi berdasarkan konsep divine kingship atau feodalisme terpusat

* Birokrasi formal, pajak terstandarisasi, dan suksesi yang sangat rigid

* Simbol kekuasaan fisik: singgasana, mahkota, pagar tembok, taman keraton

Realitas di Wawonii: 🏝️

• Mokole/Lakino tidak berkuasa mutlak. Keputusan strategis selalu melalui musyawarah adat bersama Kapita (wakil wilayah/panglima), Bonto (sipil/ekonomi), dan Mole Awo (tetua adat).

• Tidak ada istana monumental atau singgasana kayu ukir. Pusat keputusan berada di balai kampung, rumah tetua, atau ruang terbuka.

• Legitimasi bukan dari "tahta", melainkan dari pengakuan silsilah, kearifan memimpin, kemampuan menengahi sengketa, dan keselarasan dengan nilai adat.

• Istilah "kerajaan" yang sering dipakai dalam literatur modern lebih merupakan label administratif kolonial (Landschap Wawonii) dan adaptasi retoris dari tetangga, bukan transformasi sistemik ke model feodal istana.

2. Mengapa Bukan Sistem Imamah? 🕌

Sistem imamah adalah model kepemimpinan dalam tradisi Islam yang menekankan:

* Otoritas berbasis keagamaan, penafsiran syariat, dan kualifikasi keilmuan

* Suksesi melalui baiat, penunjukan ulama, atau konsensus keagamaan

* Fungsi pemimpin sebagai penjaga akidah, penegak hukum Islam, dan imam shalat/ritual keagamaan

Realitas di Wawonii: 🏝️

* Islam masuk ke Wawonii secara bertahap dan akulturatif (abad ke 16–18) melalui jalur perdagangan, perkawinan, dan dakwah kultural (terutama dari Buton dan Bugis-Bone).

* Nilai Islam (doa, selamatan, puasa, etika keadilan) melapisi praktik adat, bukan menggantikannya. Struktur Mokole/Lakino tetap dipertahankan dengan penyesuaian nilai, bukan digantikan oleh imam.

* Pemimpin adat tidak dipilih melalui mekanisme keagamaan, dan hukum yang berlaku tetap hukum adat (hukum wawonii) yang mengutamakan rekonsiliasi, bukan sanksi pidana syariat.

* Ritual seperti Kalapaeya atau penghormatan leluhur tetap hidup, namun diberi bingkai doa Islam dan tata krama selamatan. Ini adalah pola sinkretisme sehat, bukan teokrasi imamah.

3. Karakteristik Inti: Sistem Adat Tradisional Wawonii 🏝️ 

Pemerintahan Mokole/Lakino Wawonii adalah manifestasi dari sistem chiefdom Austronesia timur yang adaptif dan maritim, dengan ciri utama:

Aspek Penjelasan

Basis Legitimasi Garis keturunan adat + pengakuan konsensus tetua adat + rekam jejak kepemimpinan

Mekanisme Keputusan 

Musyawarah adat (mufakat), bukan dekrit tunggal

Struktur Fungsional 

Mokole/Lakino (simbol & penengah) → Kapita (wakil wilayah/pertahanan) → Bonto (administrasi & ekonomi) → Mole Awo (pemimpin kampung/tetua adat) → Paraji/Dukun (spiritual & ritual)

Hukum & Sengketa   

Hukum adat mengutamakan restorasi harmoni, denda adat, sumpah, dan mediasi kampung

Hubungan Manusia-Alam   

Kekuasaan tidak terpisah dari tanggung jawab ekologis; pemimpin wajib menjaga keseimbangan hutan, laut, dan lahan adat

Sifat Kepemimpinan   

Primus inter pares (yang pertama di antara sesama), turun gunung/menyusuri kampung, bukan terisolasi di pusat kekuasaan

4. Proses Akulturasi & Penyesuaian Historis 

Wawonii tidak hidup dalam ruang hampa. Sistem adatnya mengalami tiga lapisan penyesuaian tanpa kehilangan inti tradisinya:

1. Pengaruh Regional (Buton-Konawe-Bungku) → Penyerapan istilah "kerajaan", tata upacara, dan hierarki simbolis untuk diplomasi dan pengakuan eksternal.

2. Integrasi Nilai Islam → Doa, selamatan, etika keadilan, dan tata krama birokrasi adat disesuaikan dengan prinsip Islam, namun mekanisme suksesi & struktur adat tetap utuh.

3. Administrasi Kolonial & Pasca Kemerdekaan → Belanda mengklasifikasikannya sebagai Landschap untuk kemudahan pemungutan pajak kopra & logistik. Setelah kemerdekaan, struktur adat beradaptasi ke dalam sistem desa/kecamatan, dengan tokoh adat tetap berperan dalam mediasi, pengelolaan tanah ulayat, dan pelestarian budaya.

📌 Kesimpulan

Pemerintahan Mokole/Lakino Tangkombuno (Wawonii) adalah sistem adat tradisional yang telah mengalami akulturasi budaya dan penyesuaian administratif, bukan sistem kerajaan feodal maupun sistem imamah. Istilah "kerajaan" yang melekat padanya bersifat retrospektif dan diplomatis, sedangkan esensi kepemimpinannya tetap berakar pada kearifan lokal, musyawarah, jaringan kekerabatan, dan tanggung jawab ekologis.

Gelar Lakino (sering juga ditulis Lakina) secara harfiah bermakna "Yang Dipertuan", "Penguasa Wilayah", atau "Pemimpin Tertinggi". Gelar ini digunakan oleh sejumlah entitas politik tradisional di Sulawesi Tenggara yang memiliki otonomi pemerintahan dan struktur adat yang setara.

Gelar Mokole dan Lakino sering tumpang-tindih, namun memiliki penekanan berbeda:

* Mokole: Lebih menekankan pada legitimasi silsilah, spiritualitas, dan fungsi sebagai "raja adat" dalam konteks internal masyarakat. Gelar ini dipakai di Konawe, Moronene dan Mori dalam upacara adat.

* Lakino: Lebih menekankan pada fungsi politik, kedaulatan wilayah, dan pengakuan eksternal (diplomasi dan perjanjian). Gelar ini dipakai di Kulisusu, Tiworo dan Kaledupa (Barata Buton). Lakino bermakna "yang menguasai/memerintah suatu negeri", sehingga sering dipakai dalam dokumen perjanjian atau korespondensi dengan Belanda, Buton dan kerajaan lainnya di Sulawesi Tenggara.

* Praktiknya: Seorang penguasa bisa dipanggil Mokole oleh rakyatnya dalam ritual, tetapi Lakino dalam catatan resmi atau hubungan antar-kerajaan. Tidak ada hierarki ketat yang memisahkan keduanya; keduanya merujuk pada entitas yang sama dengan penekanan fungsi yang berbeda.

📚 Referensi & Saran Penelusuran Lanjutan

Jika Anda ingin mendalami aspek ini secara akademis, Anda dapat menelusuri :

* Memorie van Overgave Residen Manado/Kendari (1900–1930).

* Jurnal sejarah Universitas Halu Oleo (kajian tentang Barata Kulisusu, jaringan Mori-Bungku, dan Benteng Kontara).

* Kajian arsitektur vernakular Sulawesi Tenggara (Balai Pelestarian Cagar Budaya, Kemdikbud).

Aspek Keterangan Referensi/Arsip yang Relevan → 

* Klasifikasi Bahasa : Bagian dari Eastern Bungku-Tolaki; mandiri dari Tolaki inti, Ethnologue, Joshua Project, Balai Bahasa Sultra, jurnal linguistik UHO.

* Islamisasi : Bertahap (abad 16–18), via Buton, Bone, Mori; bersifat akulturatif, Tradisi lisan namambo pasaho, tesis IAIN Kendari (2024), catatan Pompaka & ritual sinkretis.

* Arsip Kolonial : Belanda mencatat identitas Muslim mayoritas pada awal abad ke-20, Memorie van Overgave Residen Manado/Kendari, laporan misionaris & pengawas adat.

* Keterbatasan Sumber : Minim naskah tertulis lokal; sejarah banyak ditopang tradisi lisan & arsip luar. Perlu verifikasi silang antara silsilah Mokole, kronik Buton, dan temuan arkeologi makam kuno.



LEGENDA PANDEGARA WAWONII

 PART 1:

Di tepian cakrawala, di mana langit dan Laut Banda seolah bersatu dalam pelukan biru yang abadi, berdirilah Pulau Wawonii. Sebuah pulau yang bentuknya menyerupai jantung, berdenyut dengan riak gelombang dan aroma cengkih yang tertiup angin gunung. Di sinilah kisah Lando dimulai. Pemuda dari Pesisir Langara. 

Lando bukanlah pendekar dengan jubah sutra atau pedang pusaka berlapis emas. Ia hanya seorang pemuda dari pesisir Langara yang sehari-harinya bergulat dengan jala dan derasnya arus laut lepas. Namun, di balik kulitnya yang legam terbakar matahari, tersimpan kekuatan yang dilatih oleh alam. 

Keseimbangan: Dilatih dari berdiri di atas sampan saat badai menghantam. Kecepatan: Terasa dari jemarinya yang lincah menangkap ikan terbang. Ketangguhan: Dibentuk oleh pendakian curam menuju puncak-puncak perbukitan Wawonii. 

Kedatangan Sang Badai Suatu senja, ketika langit berubah warna menjadi ungu pekat, tiga kapal bercadik hitam merapat di dermaga kayu yang sunyi. Mereka adalah kelompok "Hantu Karang"—para bajak laut yang sering menjarah desa-desa terpencil di kepulauan Sulawesi. Pemimpin mereka, seorang pria bermata satu dengan parang raksasa, melangkah maju. "Serahkan hasil bumi kalian, atau kami jadikan pulau ini karang yang mati!" teriaknya. 

Warga desa gemetar, namun Lando maju dengan langkah tenang. Ia hanya membawa sebatang kayu nibung—kayu hutan Wawonii yang kerasnya melebihi besi. "Wawonii tidak pernah memberi pada mereka yang meminta dengan paksa," ucap Lando datar. Pertarungan pecah. Lando bergerak dengan gaya unik yang disebut warga lokal sebagai "Silat Kelapa Jatuh". Gerakannya tidak terduga; terkadang ia merunduk rendah mengikuti arus angin, lalu tiba-tiba melesat dengan serangan tungkai yang keras bagai buah kelapa yang menghantam bumi. 

Tangkisan Ombak: Lando memutar tongkatnya, membelokkan tebasan parang lawan dengan putaran halus namun bertenaga. Pukulan Karang: Saat celah terbuka, ia menghantamkan ujung tongkatnya ke titik saraf lawan secepat kilat. Satu per satu anak buah Hantu Karang tumbang. Sang pemimpin maju, namun Lando memanfaatkan licinnya pasir pantai dan deburan ombak. Saat ombak besar pecah di kaki mereka, Lando melakukan tendangan salto yang telak mengenai dagu sang bajak laut. Sang Penjaga Jantung Laut. 

Malam itu, kapal-kapal hitam itu melarikan diri kembali ke laut lepas, berjanji tidak akan pernah kembali ke koordinat Wawonii. Lando tidak berpesta. Ia hanya kembali ke gubuknya, menyandarkan tongkat nibungnya, dan menatap laut yang kini tenang. Baginya, menjadi pendekar bukanlah tentang menaklukkan dunia, melainkan tentang memastikan bahwa anak-anak di pulaunya bisa tidur tanpa takut akan hari esok. "Di Wawonii, kami tidak belajar cara membunuh. Kami belajar cara bertahan, karena laut adalah guru yang paling keras sekaligus ibu yang paling penyayang."


PART 2:

Kekalahan sang pemimpin bajak laut di bibir pantai Langara ternyata hanyalah riak kecil sebelum badai yang sesungguhnya. Sang pemimpin, yang dikenal dengan nama Gorgon Si Mata Satu, tidak benar-benar pergi. Ia kembali ke tengah laut untuk memanggil "Sang Penenggelam", sebuah kapal induk berlapis tembaga yang membawa lebih banyak pasukan. Dua malam setelah kejadian itu, lonceng di menara desa berdentang memecah kesunyian. Kepungan di Teluk Wawonii Lando berdiri di puncak bukit, menatap ke arah laut. Puluhan obor terlihat mendekat dari segala penjuru. Kali ini, mereka tidak hanya mengincar harta, tapi juga kepala Lando sebagai balasan atas harga diri yang terluka. 

"Mereka mengepung kita lewat jalur rahasia di balik hutan bakau," bisik Pak Tua Arung, guru silat tua yang sudah lama menggantung parangnya. Ia menyerahkan sebuah bungkusan kain merah pada Lando. "Gunakan ini, Lando. Parang Taawu. Pusaka ini hanya akan tajam jika digerakkan oleh niat melindungi." Pertempuran di Hutan Bakau Lando mencegat pasukan pertama di rawa-rawa bakau yang rimbun. Di sini, kegelapan adalah kawan sekaligus lawan. 

Langkah Bayang Air: Lando bergerak di atas akar-akar bakau yang licin tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Serangan Senyap: Saat pasukan lawan terjebak dalam lumpur, Lando muncul dari balik pepohonan. Parang Taawu miliknya berkilat, membelah udara dengan suara seperti siulan angin. Dua puluh orang tumbang sebelum mereka sempat menarik napas. 

Namun, Gorgon muncul dari arah belakang dengan membawa senjata api kuno—sebuah musket rampasan dari kapal asing. DOR! Peluru menyerempet bahu Lando. Darah segar mengalir, namun Lando justru memejamkan mata. Ia mengingat pesan gurunya: “Rasakan deburan jantungmu seperti detak ombak yang menghantam karang. Karang tidak pernah lari, ia hanya menjadi lebih kuat setiap kali dipukul.” Puncak Duel: Lando melesat, bukan menjauh, melainkan lurus ke arah moncong senjata Gorgon. 

Gerakan Membelah Arus: Lando merunduk ekstrem, tubuhnya hampir menyentuh air rawa, membuat tembakan kedua Gorgon meleset jauh di atas kepalanya. Kuncian Akar Nibung: Lando menggunakan kaki kirinya untuk mengunci pergelangan kaki Gorgon, sementara tangannya melakukan tebasan menyilang. Gorgon meraung. Parang raksasanya beradu dengan Parang Taawu milik Lando. Percikan api menerangi kegelapan hutan bakau. Kekuatan fisik Gorgon luar biasa, namun Lando memiliki kelincahan seekor lumba-lumba. "Wawonii adalah tanah kelahiranku!" seru Lando. 

Dengan satu putaran tubuh yang bertenaga, ia melakukan teknik pamungkas: "Pusaran Arus Banda". Parang Taawu berputar seperti baling-baling, mematahkan parang raksasa Gorgon menjadi tiga bagian. Ujung pusaka itu berhenti tepat di leher sang bajak laut. Akhir yang Sunyi Gorgon gemetar. Di bawah sinar bulan yang temaram, ia melihat mata Lando yang tidak memancarkan kebencian, melainkan ketegasan yang dingin. "Pergilah. Bawa anak buahmu yang tersisa. Jika kakimu menyentuh pasir Wawonii lagi, laut tidak akan cukup luas untuk tempatmu bersembunyi," ucap Lando pelan namun menekan. 

Tanpa kata, sang bajak laut mundur perlahan dan menghilang ke dalam gelapnya laut. Lando berdiri mematung di atas akar bakau, membiarkan air laut membasuh luka di bahunya. Esok harinya, saat matahari terbit di ufuk timur Wawonii, tidak ada lagi jejak kapal hitam di cakrawala. Warga desa menemukan Lando sedang duduk di dermaga, kembali menjahit jalanya yang robek, seolah badai besar semalam hanyalah mimpi yang lewat bersama pasang surut air laut.


PART 3:

Warisan Sang Penjaga Samudra Ketenangan di Pulau Wawonii setelah kekalahan Gorgon ternyata membawa perubahan yang tidak terduga. Lando bukan lagi sekadar pemuda penjala ikan; di mata penduduk desa, ia adalah penjelmaan roh pelindung laut. Namun, bagi Lando, luka di bahunya adalah pengingat bahwa kedamaian selalu memiliki harga. Tamu dari Tanah Seberang Tiga bulan setelah malam di hutan bakau, sebuah kapal megah dengan layar putih bersih berlabuh di dermaga. Bukan kapal bajak laut, melainkan kapal utusan dari Kerajaan Pusat yang mendengar kabar tentang tumbangnya "Sang Penenggelam". 

Seorang panglima bernama Kala Sunda turun ke darat. Ia datang bukan untuk menyerang, melainkan untuk membawa titah raja: Lando dipanggil ke ibu kota untuk menjadi Panglima Garda Laut. "Wawonii terlalu kecil untuk pendekar sepertimu, Lando. Di sana, kau akan memiliki ribuan prajurit dan kapal berlapis emas," ujar Kala Sunda dengan nada membujuk. Lando menatap Parang Taawu yang kini tersampir di dinding gubuknya. Ia teringat pesan Pak Tua Arung. Pusaka itu tajam karena niat melindungi, bukan untuk mengejar kejayaan. 

Lando menolak tawaran itu dengan halus, namun penolakannya memicu ketegangan baru. Kerajaan tidak suka ditolak. Ancaman di Bawah Permukaan Saat fokus penduduk teralih oleh kedatangan utusan kerajaan, sebuah ancaman yang lebih tua dari sekadar bajak laut mulai bangkit. Aktivitas vulkanik di bawah laut dekat Teluk Wawonii menyebabkan air laut surut secara tidak wajar. Pak Tua Arung memanggil Lando dengan wajah pucat. "Ini bukan ulah manusia, Lando. 'Naga Karang' telah terbangun karena getaran pertempuranmu dengan Gorgon tempo hari. Jika ia mengamuk, tsunami akan menyapu Wawonii." 

Teknik Terlarang: Tarian Penenang Samudra Lando menyadari bahwa musuhnya kali ini bukanlah pedang atau musket, melainkan alam itu sendiri. Ia harus menyelam ke palung terdalam di balik karang perlindungan desa. Penyelaman Sunyi: Tanpa alat bantu, Lando menyelam hanya dengan Parang Taawu di tangan. Tekanan air terasa menghimpit paru-parunya, namun ia menggunakan teknik pernapasan yang diajarkan Pak Tua Arung: Napas Arus Dalam. 

Pertemuan di Kedalaman: Di dasar laut, ia melihat rekahan tanah yang mengeluarkan cahaya merah glosir. Sosok naga purba yang terbentuk dari koloni karang raksasa bergerak gelisah. Gerakan Keheningan: Lando tidak menebas. Ia justru menancapkan Parang Taawu ke celah karang utama sambil mengalirkan energi ketenangan melalui pegangan parangnya. Ia membisikkan doa kuno dalam bahasa Wawonii, memohon agar alam kembali tidur. Akhir yang Hakiki Getaran di pulau itu perlahan berhenti. Air laut yang sempat surut kembali tenang, membasuh pantai dengan lembut. 

Lando muncul ke permukaan dengan napas tersengal, namun matanya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Panglima Kala Sunda, yang menyaksikan kejadian luar biasa itu dari dermaga, akhirnya mengerti. Ia menjatuhkan lututnya sebagai tanda hormat. Ia sadar bahwa Lando bukan milik kerajaan mana pun; Lando adalah milik laut.

Kapal kerajaan itu pergi tanpa membawa Lando. Di dermaga, Lando kembali duduk bersama anak-anak kampung. Ia tidak lagi hanya menjahit jala, tapi juga mulai mengajari mereka cara membaca tanda-tanda alam dan dasar-dasar gerak silat. "Ingatlah," kata Lando sambil menunjuk ke arah cakrawala yang jingga. "Kekuatan terbesar bukan saat kau bisa mematahkan pedang musuh, tapi saat kau bisa menenangkan badai di dalam dirimu sendiri." Wawonii tetap menjadi permata yang tersembunyi, dijaga oleh seorang nelayan yang memiliki jiwa sedalam samudra.


PART 4:

Tahun-tahun berlalu setelah naga karang ditenangkan. Lando tidak lagi hanya menjadi penjaga pantai yang menyendiri. Ia menyadari bahwa perlindungan sejati bagi Wawonii tidak bisa bertumpu pada satu bahu saja. Ia membutuhkan sebuah benteng hidup—bukan benteng batu yang kaku, melainkan sebuah komunitas yang selaras dengan napas samudra. Fondasi di Atas Karang Lando memilih sebuah semenanjung yang menjorok ke laut, tempat di mana arus dari tujuh penjuru bertemu. Ia menamainya Tangkombuno, yang dalam bahasa lokal berarti "Tempat Berkumpulnya Para Penjaga". 

Arsitektur Rumah Panggung: Bersama warga, Lando membangun rumah-rumah panggung tinggi dari kayu besi (kayu hitam) yang tahan air laut. Pondasinya ditanam di antara celah karang tanpa merusaknya. Sistem Kanal Alami: Perkampungan ini didesain unik; jalur utamanya adalah kanal-kanal air yang mengikuti pasang surut, membiarkan lumba-lumba terkadang berenang di bawah lantai rumah mereka. 

Padepokan Taawu dan Sekolah Laut Di tengah Tangkombuno, berdiri sebuah bangunan tanpa dinding yang luas. Inilah jantung dari perkampungan tersebut. Pewarisan Ilmu: Setiap sore, Lando melatih pemuda-pemudi kampung bukan hanya teknik bertarung Langkah Bayang Air, tetapi juga cara membaca rasi bintang dan menjaga kelestarian hutan bakau. Parang Tanpa Mata: Uniknya, dalam latihan, Lando mewajibkan muridnya menggunakan kayu tumpul. "Senjata hanyalah perpanjangan tangan. Jika hatimu tumpul, parang tertajam pun tak akan berguna," pesannya yang selalu diingat. 

Kembalinya Bayang Masa Lalu Suatu senja, sebuah perahu kecil yang compang-camping mendekat ke dermaga Tangkombuno. Penumpangnya adalah mantan anak buah Gorgon yang telah renta dan sakit-sakitan. Mereka datang bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk meminta perlindungan setelah dikhianati oleh kelompok bajak laut baru yang jauh lebih kejam: Kelompok Badai Merah. Penduduk Tangkombuno sempat tegang dan menghunus senjata. Namun, Lando turun dari tangga rumahnya dengan langkah tenang. "Tangkombuno adalah pelabuhan bagi siapa saja yang ingin mencuci tangannya dari darah dan debu kehancuran," ucap Lando sambil mengulurkan tangan membantu mantan musuhnya naik ke darat. 

Tindakan Lando ini mengubah Tangkombuno dari sekadar desa nelayan menjadi simbol pengampunan dan kekuatan baru di wilayah perairan tersebut. Pertahanan "Pusaran Hidup" Kabar tentang berkembangnya Tangkombuno akhirnya sampai ke telinga Kelompok Badai Merah. Mereka menganggap kemakmuran kampung itu sebagai incaran empuk. Saat armada mereka mengepung semenanjung di malam buta, mereka terkejut. Tangkombuno tidak gelap gulita. Ribuan kunang-kunang laut (plankton bioluminesens) yang dipelihara di kanal-kanal kampung bercahaya terang saat dayung musuh menyentuh air, membongkar posisi mereka seketika. 

Penyergapan dari Bawah: Murid-murid Lando, yang sudah terlatih menyelam tanpa riak, muncul dari balik kolong rumah-rumah panggung. Kuncian Arus: Mereka tidak membunuh, melainkan memotong tali kemudi dan merusak layar kapal musuh dengan kecepatan luar biasa, membuat kapal-kapal itu terombang-ambing tak berdaya oleh arus pusaran yang diciptakan konstruksi kanal kampung. Warisan yang Hidup Badai Merah berhasil dihalau tanpa satu pun nyawa penduduk Tangkombuno yang melayang. 

Kemenangan ini mengukuhkan posisi perkampungan tersebut sebagai mercusuar harapan di tengah carut-marutnya dunia bajak laut saat itu. Lando kini berdiri di ujung dermaga Tangkombuno, menatap murid-muridnya yang sedang membantu memperbaiki kapal mantan musuh mereka. Ia tersenyum tipis. Ia telah berhasil membangun sesuatu yang lebih kuat dari Parang Taawu: sebuah persaudaraan yang lahir dari rasa hormat terhadap laut. Di bawah sinar bulan, ukiran di gapura masuk Tangkombuno berkilat, sebuah pesan bagi siapa pun yang datang: "Di sini, kami tidak menjinakkan laut. Kami belajar menjadi bagian darinya."

SEJARAH KAMPUNG TOLAKI DI PULAU WAWONII


A.      Asal Usul Penduduk Wungkolo (Kampung Tolaki)

§  Pemukiman Lobota (1902-1957 M)

Pada pertengahan tahun 1902 Masehi, Lapuru bersama istri dan anaknya merintis pemukiman, mereka menggunakan perahu dayung dari Muara melewati hutan bakau hingga sampai di Lobota.[1] Setibanya di Lobota mereka mendengar suara burung “Wunggoloko”, Lapuru kemudian menyampaikan kepada anak-anaknya bahwa daratan yang akan mereka jadikan tempat pemukiman dinamai “Wunggolo” dan dikemudian hari nama Wunggolo berubah menjadi Wungkolo. Lapuru dan keluarganya kemudian membuat gubuk dan bercocok tanam. Pada tahun 1926, Lapuru kembali ke Kulisusu dan wafat disana.[2]

Tanggasa bin Lapuru dan istrinya bernama Wedamu dikarunia lima orang anak yaitu: Weadu, Lahasi, Latongge, Wahura, dan Hariru. Weadu menikah dengan La Agu, Lahasi menikah dengan Tiali dari Sanggula, Latongge menikah dengan Pode  (bersaudara dengan Tiali), Wahura menikah dengan Hamasa bin Samunu dan Hariru menikah dengan Weati. Wembatu binti Lapuru dan suaminya bernama Porande dikaruniai dua orang anak yaitu: Abdul Rahman Porande alias Laporu dan Wemuna. Sedangkan Labudulu bin Lapuru dan istrinya bernama Waliha binti Lasambe dikaruniai enam orang anak yaitu: Damila, Suraiya, Lila, Sitiha, Lahiya, dan Sakaria.[3]

§  Pemukiman Lamangkuri (1910-1957 M)

Pada tahun 1911 Masehi,[4] sepasang suami istri dari Andoolo bernama Samunu dan Halina datang bermukim di Lamangkuri.[5] Halina adalah anak keturunan Garagasi yang melarikan diri karena pernikahannya dengan Samunu tidak direstui oleh keluarganya. Samunu dan Halina dikaruniai tiga orang putra yaitu: Langa, Hamasa dan Rumono. Langa bin Samunu memiliki dua istri yaitu Suraiya dan Saipa. Hamasa bin Samunu hanya memiliki satu istri yaitu Wahura binti Tanggasa. Sedangkan Rumono bin Samunu memiliki dua istri yaitu Tina (Laonti) dan Ndeke.[6] Pada periode inilah pemukiman warga Wungkolo terbagi menjadi dua tempat yaitu pemukiman Lobota dan pemukiman Lamangkuri. Etnik Tolaki mulai berdatangan dan saling menikahkan anak-anak mereka sehingga terjadi percampuran etnik antara Tolaki dan Kulisusu.

Kose dan Wetongga adalah anak dari Pae-Pae yang berasal dari Pondidaha. Kose menikah dengan Ndilenggopa dan dikaruniai empat orang putra yaitu: Sabura, Sanabu, Nasimu dan Lateli. Lateli menikah dengan Wemuna binti Porande. Sedangkan Wetongga dinikahi oleh Lasambe dan dikaruniai tiga orang anak yaitu: Marahu, Waliha dan Walepa. Marahu memiliki tiga orang anak yaitu: Hasan, Sitiali dan Wakama. Waliha dinikahi oleh Labudulu bin Lapuru, sedangkan Walepa dinikahi oleh Hamidu dari Waworope. Hasan bin Marahu menikah dengan Tina dari Lalonggasumeeto.[7]

Lamau dan Masarapa merupakan saudara sepupu, ayah mereka adalah keturunan bangsawan Konawe. Lamau memiliki tiga orang putra yaitu: Lahali, Achmad[8] alias Lakue dan Lamburu. Lahali menikah dengan Wakama binti Marahu, Achmad menikah dengan Mehi dan Lamburu menikah dengan Malia. Sedangkan Masarapa menikah dengan Weriolo dan menetap menjadi warga Laonti. Mereka dikaruniai seorang anak perempuan (putri tunggal) bernama Wenandi. Wenandi dinikahi oleh Asman, putra dari Pewu dan Tina Asi.[9]

Demikianlah silsilah dan nama-nama penduduk awal kampung Tolaki yang keturunannya terus berkembang membentuk keluarga besar Wungkolo Raya hingga saat ini telah menjadi dua Desa yaitu Desa Wungkolo dan Desa Wawoone.

B.      Pemerintahan Kampung Wungkolo Pasca Peristiwa Lamongupa

Pada tanggal 13 Ramadhan tahun 1957, terjadi peristiwa berdarah di Lamongupa yang menyebabkan penduduk Lampeapi dan Wungkolo terpaksa mengungsi di Kendari dan kembali ke Wawonii tahun 1962, setelah lima tahun melakukan pengungsian. Pada tahun 1963 terjadi perubahan nama dari kepala kampung menjadi kepala desa berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Kendari tanggal 1 Mei 1963 Nomor: 21/1963, berjumlah 7 (tujuh) kepala desa yaitu: Salono kepala desa Wawouso, Abdul Halim kepala desa Lampeapi, Haji Abdullah kepala desa Langara, Surura kepala desa Lansilowo, Muhammad Muridun kepala desa Ladianta, Muhammad Sirata kepala desa Munse dan Haji Rasido kepala desa Laonti. Pada perkembangannya wilayah Kecamatan Wawonii dari 7 (tujuh) menjadi 6 (enam) karena desa Laonti masuk Kecamatan Moramo Kabupaten Kendari bagian selatan pada saat itu, hal ini sesuai Keputusan Bupati Kepala Daerah Kendari tanggal 2 Juli 1964 Nomor: pemb. 1/1/900.[10]

Kepala Desa Lampeapi pertama kali adalah Abdul Halim yang menjabat dari tahun 1964 sampai tahun 1965. Desa Lampeapi membawahi kampung Batumea, Wungkolo dan Cempedak yang masing-masing dipimpin Kepala RK (Rukun Kampung). Pada saat itu yang ditunjuk menjadi Kepala Rukun Kampung Wungkolo (kampung Tolaki) yaitu Hasan. Sedangkan yang menjadi ketua RT yaitu Lateli.[11]

Pada tahun 1965 terjadi pemekaran wilayah hal ini sesuai usul pemecahan desa dalam wilayah kecamatan Wawonii dari 6 (enam) desa menjadi 10 (sepuluh) desa. Pengangkatan kepala/anggota pamong desa baru sesuai surat kepala Kecamatan Wawonii Nomor: pemb. 1/2/1/Rah/1965. Pada tahun ini Desa Lampeapi mengalami perubahan menjadi Desa Lamongupa yang terdiri dari kampung Batumea, Lampeapi, dan Wungkolo. Kampung Cempedak dikeluarkan dari Desa Lamongupa dan dimasukkan ke Desa Laonti. Berikut struktur organisasi pemerintahan Desa Lamongupa: 

1.   Muh. Sunusi           : Kepala Desa

2.   Tambali                   : Wakil

3.   Sadaka                    : Tata Usaha

4.   Achmad                  : Bagian Pembangunan

5.   Muh. Amin             : Bagian Keuangan

Selanjutnya pada tahun 1972, Tambali menjadi Kepala Desa Lamongupa menggantikan Muhammad Sunusi. Pada tahun 1983, kampung Wungkolo (kampung Tolaki) dimekarkan menjadi Desa Wungkolo. Pada saat itu yang pertama kali menjabat sebagai Pelaksana Jabatan Kepala Desa Wungkolo yaitu Muhammad Idrus. Dimasa pemerintahannya, ia pernah menggagas untuk memindahkan kampung Wungkolo di Muara.[12] Namun berkat upaya yang dilakukan tokoh masyarakat Wungkolo, rencana pemindahan wilayah perkampungan berhasil di gagalkan. Muhammad Idrus kemudian dipindahkan menjadi Pelaksana Kepala Desa Lampeapi dan digantikan oleh Tambali. Pada masa pemerintahan Tambali sebagai Pelaksana Kepala Desa Wungkolo, kehidupan masyarakat Wungkolo mulai mengalami perubahan. Masyarakat Wungkolo tergerak untuk membuka lahan dan bercocok tanam, baik tanaman jangka pendek maupun jangka panjang. Saat itu yang ditunjuk menjadi Kepala Rukun Kampung Wungkolo adalah Somi. Sedangkan yang menjadi ketua RT yaitu Hamasa.[13] Berikut daftar nama-nama yang pernah menjabat sebagai Kepala Desa Wungkolo:

NO.

NAMA

JABATAN

PERIODE

ALAMAT

1

Muh. Idrus

Pj. Kepala Desa

1983-1984

Desa Lampeapi

2

Tambali

Pj. Kepala Desa

1984-1985

Desa Lampeapi

3

Achmad

Pj. Kepala Desa

1985-1986

Desa Wungkolo

4

M. Zalik

Kepala Desa

1986-1998

Desa Wungkolo

5

Lukman

Kepala Desa

1998-2009 

Desa Wungkolo

        Sumber: Diolah dari berbagai sumber.

 

 


[1] Lobota merupakan daratan pinggir sungai yang terhubung dengan Muara (petemuan antara air tawar dan air asin), dimasa lalu Lobota dijadikan pelabuhan oleh masyarakat kampung Wungkolo.

[2] Wawancara dengan Hariru bin Tanggasa, tanggal 11 Maret 2020

[3] Wawancara dengan Musrah bin Lateli, tanggal 12 Maret 2020

[4] Pada tahun ini status pulau Wawonii telah mengalami perubahan dari Onderdistrik menjadi Distrik.

[5] Bekas Pemukiman Lamangkuri terletak di perbatasan Desa Lampeapi dan Desa Wungkolo.

[6] Wawancara dengan Musrah bin Lateli, tanggal 12 Maret 2020

[7] Wawancara dengan Musrah bin Lateli, tanggal 14 Maret 2020

[8] Putra Wungkolo Pertama yang diangkat menjadi Pelaksana Kepala Desa Wungkolo

[9] Dari pernikahan Paidah binti Asman dan Jufri bin Hamasa maka lahirlah empat orang putra yang salah satunya adalah Penulis. Wawancara dengan Haripudin bin Achmad, tanggal 14 Maret 2020

[10] Kantor Arsip Daerah Prov. Sulawesi Tenggara

[11] Wawancara dengan Musrah bin Lateli, tanggal 15 Maret 2020

[12] Wilayah Muara terletak di pesisir pantai Wungkolo berbatasan dengan Desa Sawapatani.

[13] Wawancara dengan Musrah bin Lateli, tanggal 15 Maret 2020

Sejarah, Cerpen dan Folklore

SEJARAH PERADABAN PULAU WAWONII

Kepemimpinan Adat/Suku Wawonii (Wawonii Chiefdom) 1. Perspektif Arsip Kolonial Belanda 📜 Dalam catatan administrasi Hindia Belanda (terutam...

Postingan Populer