SEJARAH PERKEMBANGAN ISLAM DI PULAU WAWONII
A. Kerajaan Wawonii
Pulau Wawonii adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Menurut sejarah dan bahasa lokal, nama "Wawonii" memang berasal dari dua kata, yaitu "Wawo" dan "Nii". Wawo berarti "atas" atau "di atas", sedangkan Nii berarti "buah kelapa" atau "pohon kelapa". Jadi, nama Wawonii dapat diartikan sebagai "tempat yang berada di atas" atau "tempat yang memiliki banyak pohon kelapa".
Penamaan ini mungkin merujuk pada lokasi geografis pulau yang berada di atas atau lebih tinggi dari pulau-pulau lain di sekitarnya, atau mungkin juga merujuk pada keberadaan pohon kelapa yang banyak tumbuh di pulau tersebut. Pulau Wawonii adalah salah satu pulau yang terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Pulau ini memiliki luas sekitar 705,1 km² dan berpenduduk sekitar 28.000 jiwa.
Kerajaan Wawonii adalah sebuah kerajaan kecil yang pernah berdiri di Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Kerajaan Wawonii didirikan pada abad ke-14 oleh seorang raja bernama Sangia Lungku. Pada awalnya, kerajaan ini merupakan sebuah kerajaan tradisional yang berdiri sendiri. Namun seiring waktu, Kerajaan Wawonii berkembang menjadi sebuah kerajaan yang cukup berpengaruh di wilayah Sulawesi Tenggara.
Pada pertengahan abad ke-16, Kerajaan Wawonii menjadi salah satu kerajaan kecil yang disegani di Sulawesi Tenggara, bersama dengan Kerajaan Kulisusu dan Kerajaan Tiworo. Kerajaan Wawonii memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Tenggara, serta dengan kerajaan-kerajaan lain di Indonesia.
Berikut nama-nama Raja Wawonii dan periode pemerintahannya:
1. Sangia Lungku (1335-1400 M), berkuasa selama 65 tahun.
2. Mbuatana (1400-1450 M), berkuasa selama 50 tahun.
3. Manuambo (1450-1470 M), berkuasa selama 20 tahun.
4. Bingko Moriwu (1470-1493 M), berkuasa selama 23 tahun.
5. Bole-Bole (1493-1520 M), berkuasa selama 27 tahun.
6. Touna (1520-1550 M), berkuasa selama 30 tahun.
7. Lamboi (1550-1600 M), berkuasa selama 50 tahun.
Pada abad ke-17, Kerajaan Wawonii mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan oleh perang dengan kerajaan-kerajaan lain, serta oleh penyebaran agama Islam yang mempengaruhi struktur sosial dan politik kerajaan.
Pulau Wawonii berada dibawah kekuasaan Kesultanan Buton, dimulai pada tahun 1600 sampai dengan tahun 1648. Kemudian pada tahun 1649, Pulau Wawonii dimasukkan sebagai wilayah Kerajaan Bungku dibawah kekuasaan Kesultanan Ternate di masa pemerintahan Sultan Mandarsyah (1648-1675 M) dan putranya yang bernama Kaicili Sibori atau Sultan Amsterdam (1675-1699 M).
Pada tahun 1906, Pulau Wawonii secara resmi menjadi bagian dari Hindia Belanda. Setelah kemerdekaan Indonesia, Pulau Wawonii menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Tenggara.
B. Awal Masuknya Islam di Pulau Wawonii
Pada abad ke-16, Islam mulai masuk ke Sulawesi Tenggara melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama oleh para ulama. Wawonii, sebagai salah satu pulau di daerah tersebut, juga mulai menerima pengaruh Islam.
Pulau Wawonii terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Proses masuknya Islam di Pulau Wawonii tidak terlepas dari pengaruh kesultanan dan perdagangan yang terjadi di wilayah tersebut.
Pada abad ke-16, Kesultanan Buton yang berkuasa di wilayah Sulawesi Tenggara memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Pulau Wawonii. Sultan Buton ke-6, Sultan Dayanu Iksanudin (1512-1537 M), memeluk Islam dan menjadikan Islam sebagai agama resmi kesultanan.
Penyebaran Islam di Pulau Wawonii dipengaruhi oleh beberapa faktor:
1. Perdagangan: Pedagang-pedagang Muslim yang berdagang di Wawonii membawa pengaruh Islam ke wilayah tersebut.
2. Kesultanan Buton: Sultan Buton yang memeluk Islam mempengaruhi rakyat Wawonii untuk memeluk Islam.
3. Dakwah: Ulama dan mubalig dari kesultanan Buton dan wilayah lainnya melakukan dakwah di Wawonii untuk menyebarkan ajaran Islam.
Islam masuk di Wawonii dibawa oleh seorang muballigh bernama Humaea. Beliau mengislamkan masyarakat Wawonii tetapi belum secara menyeluruh pada lapisan masyarakat. Pada periode ini terdapat tokoh bernama La Embo. Berkembangnya islam di Wawonii berkat jasa La Embo, akhirnya dengan cepat tersebarlah ajaran Islam disekitarnya, dan kemasyuran itu merupakan pintu pertama masuknya Islam di Konawe (Kendari) sekitar tahun 1621-1695 M.
Islam yang masuk ke Wawonii adalah Islam Mazhab Syafi'i. Mazhab Syafi'i adalah salah satu dari empat mazhab fiqih dalam Islam Sunni, yang didirikan oleh Imam Syafi'i (767-820 M).
Mazhab Syafi'i memiliki pengaruh yang luas di Indonesia, terutama di Sulawesi, Jawa, dan Sumatera. Di Wawonii, Mazhab Syafi'i diperkenalkan oleh ulama dan mubalig yang datang dari kesultanan Buton dan wilayah lainnya.
Mazhab Syafi'i memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari mazhab lainnya, seperti:
1. Pentingnya Hadits: Mazhab Syafi'i menekankan pentingnya hadits sebagai sumber hukum Islam.
2. Penggunaan Qiyas: Mazhab Syafi'i menggunakan qiyas (analogi) dalam memutuskan hukum Islam.
3. Pentingnya Ijtihad: Mazhab Syafi'i menekankan pentingnya ijtihad (penafsiran) dalam memahami hukum Islam.
Mazhab Syafi'i telah menjadi bagian dari tradisi Islam di Wawonii dan masih dipraktikkan oleh masyarakat Muslim di wilayah tersebut hingga saat ini.
C. Peran La Embo Terhadap Perkembangan Islam di Wawonii
Wawonii adalah sebuah pulau yang terletak di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Sejarah masuknya Islam di Wawonii tidak terlepas dari peran La Embo, seorang ulama yang berpengaruh di Wawonii.
La Embo, yang bernama lengkap La Embo Abdullah, adalah seorang ulama dan pejuang kemerdekaan yang lahir di Wawonii pada tahun 1602. Ia memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Wawonii dan sekitarnya.
La Embo merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pengislaman di Sulawesi Tenggara, khususnya di Pulau Wawonii. Berikut beberapa peran La Embo dalam mengislamkan masyarakat Wawonii:
1. Penyebaran Agama Islam: La Embo berperan sebagai penyebar agama Islam di Wawonii. Ia menyebarkan ajaran-ajaran Islam kepada masyarakat setempat dan membantu mereka memahami nilai-nilai Islam.
2. Pembangunan Masjid: La Embo juga berperan dalam pembangunan masjid di Wawonii. Masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan tempat berkumpulnya masyarakat Muslim setempat.
3. Pengembangan Pendidikan Islam: La Embo mendirikan pesantren tikar untuk mengembangkan pendidikan Islam di Wawonii. Pesantren tikar ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak dan pemuda setempat untuk mempelajari agama Islam dan ilmu-ilmu lainnya.
4. Pembentukan Masyarakat Muslim: La Embo berperan dalam membentuk masyarakat Muslim di Wawonii. Ia membantu masyarakat setempat memahami nilai-nilai Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Peran La Embo dalam mengislamkan masyarakat Wawonii memiliki dampak yang signifikan, antara lain:
1. Pengembangan Agama Islam: Peran La Embo membantu pengembangan agama Islam di Wawonii dan sekitarnya.
2. Pembentukan Identitas Muslim: La Embo membantu membentuk identitas Muslim di Wawonii dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan nilai-nilai Islam.
3. Pengembangan Pendidikan Islam: Peran La Embo dalam pengembangan pendidikan Islam membantu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang agama Islam.
Dengan demikian, La Embo berperan penting dalam mengislamkan masyarakat Wawonii dan membentuk identitas Muslim di daerah tersebut.
D. Perlawanan La Embo Terhadap Penjajahan Belanda
La Embo adalah seorang tokoh perlawanan rakyat Wawonii, terhadap penjajahan Belanda. Pada awal abad ke-20, Belanda mulai memperluas kekuasaannya di Sulawesi Tenggara, termasuk di Wawonii. Rakyat Wawonii merasa terancam oleh kehadiran penjajah dan memutuskan untuk melawan.
La Embo memimpin perlawanan rakyat Wawonii, terhadap penjajahan Belanda. Perlawanan ini berlangsung selama beberapa tahun, La Embo dan pasukannya melakukan serangan-serangan gerilya terhadap pasukan Belanda.
La Embo menggunakan taktik perang gerilya, seperti serangan mendadak, sabotase, dan penggunaan medan yang tidak familiar bagi pasukan Belanda. Taktik ini memungkinkan La Embo dan pasukannya untuk melakukan perlawanan yang efektif meskipun dengan sumber daya yang terbatas.
Perlawanan La Embo memiliki dampak yang signifikan terhadap penjajahan Belanda di Wawonii. Perlawanan ini memperlambat ekspansi Belanda di daerah tersebut dan memberikan inspirasi bagi perlawanan lainnya di Sulawesi Tenggara.
Pada tahun 1697, La Embo ditangkap oleh pasukan Belanda dan dihukum penjara. Namun, perlawanan yang dipimpinnya telah meninggalkan warisan yang kuat dalam sejarah Wawonii dan Sulawesi Tenggara.
E. Aksara Wawonii Warisan La Embo
Aksara Wawonii atau Aksara La Embo adalah aksara tradisional yang digunakan oleh masyarakat Wawonii, Sulawesi Tenggara, Indonesia. Aksara ini merupakan salah satu contoh aksara asli Indonesia yang memiliki sejarah dan keunikan tersendiri. Sejarah aksara Wawonii tidak tercatat secara pasti.
Aksara Wawonii dipengaruhi oleh aksara Jawa Kuno dan aksara Melayu, namun memiliki ciri khas tersendiri. Aksara Wawonii terdiri dari 16 huruf, termasuk 5 huruf vokal dan 11 huruf konsonan. Aksara ini juga memiliki beberapa tanda diakritik yang digunakan untuk mengubah bunyi huruf.
Penggunaan aksara Wawonii mulai menurun sejak abad ke-19, ketika pengaruh kolonial Belanda mulai kuat di Sulawesi Tenggara. Saat ini, aksara Wawonii hanya digunakan dalam beberapa upacara adat dan sebagai simbol budaya Wawonii.
Upaya pelestarian aksara Wawonii telah dilakukan oleh beberapa pihak, termasuk pemerintah daerah dan organisasi budaya. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk melestarikan dan mengembangkan aksara Wawonii sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
F. Gerakan DI/TII di Pulau Wawonii
DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) adalah sebuah gerakan separatis Islam di Indonesia yang berdiri pada tahun 1949 dan berakhir pada tahun 1962. Gerakan ini dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dan memiliki tujuan untuk mendirikan negara Islam di Indonesia.
Pulau Wawonii memiliki lokasi yang strategis di Sulawesi Tenggara, membuatnya menjadi penting bagi gerakan DI/TII. Pulau ini juga memiliki sumber daya alam yang melimpah, seperti kayu dan hasil laut.
Pada tahun 1950, gerakan DI/TII mulai masuk ke Pulau Wawonii. Mereka menggunakan strategi penyebaran ideologi Islam dan menggalang dukungan dari masyarakat lokal. Banyak masyarakat Wawonii yang bergabung dengan gerakan DI/TII karena mereka merasa bahwa pemerintah Indonesia tidak memperhatikan kebutuhan dan aspirasi mereka.
Pada tahun 1953, gerakan DI/TII di Wawonii mencapai puncaknya. Mereka berhasil menguasai sebagian besar wilayah pulau dan mendirikan pemerintahan sendiri. Gerakan DI/TII juga melakukan serangan terhadap pasukan pemerintah Indonesia yang berusaha untuk mengambil alih kendali pulau.
Pada tahun 1957, pemerintah Indonesia meluncurkan operasi militer untuk menumpas gerakan DI/TII di Wawonii. Pasukan pemerintah berhasil mengalahkan gerakan DI/TII dan mengambil alih kendali pulau. Banyak anggota gerakan DI/TII yang ditangkap dan diadili.
Gerakan DI/TII di Wawonii memiliki dampak yang signifikan terhadap masyarakat lokal. Banyak masyarakat yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di tempat lain. Gerakan DI/TII juga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan ekonomi di pulau Wawonii.
Berikut adalah beberapa fakta tentang gerakan DI/TII di Pulau Wawonii:
1. Pengaruh DI/TII di Wawonii: DI/TII memiliki pengaruh yang signifikan di Wawonii, terutama di kalangan masyarakat Muslim.
2. Aktivitas gerilya: DI/TII melakukan aktivitas gerilya di Wawonii, termasuk serangan terhadap pasukan pemerintah dan instalasi militer.
3. Pemberontakan: Pada tahun 1953, DI/TII melancarkan pemberontakan di Wawonii, yang ditujukan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintah Indonesia.
4. Penumpasan: Pemerintah Indonesia melancarkan operasi penumpasan terhadap DI/TII di Wawonii, yang berakhir dengan kekalahan gerakan tersebut.
G. Macam-Macam Tradisi Wawonii
1. Tradisi Adat
Kolungku: Simbol adat yang menunjukkan bentuk penghormatan, penghargaan, dan pemuliaan nilai-nilai budaya, tradisi, dan peradaban masyarakat Wawonii.
Kowea Tabako: Tradisi yang dilakukan untuk menjaga harmoni dan persatuan masyarakat.
2. Tradisi Pertanian
Laro Nii: Sistem pertanian tradisional yang menggunakan lahan awal untuk menanam berbagai macam tanaman palawija, jagung dan ubi.
Laro Dambola: Sistem pertanian tradisional yang menggunakan lahan basah untuk menanam tanaman seperti padi dan sayuran.
3. Tradisi Kerajinan
Pengrajin Perahu: Masyarakat Wawonii terkenal sebagai pengrajin perahu yang menggunakan berbagai jenis pohon sebagai bahan baku.
Kerajinan Tangan: Masyarakat Wawonii juga terkenal dengan kerajinan tangan seperti anyaman, ukiran, dan tenun.
4. Tradisi Keagamaan
Pobasa-basa'a: Tradisi yang dilakukan untuk menyambut hari-hari besar Islam atau syukuran/selamatan.
Maulu: Tradisi yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.
5. Tradisi Sosial
Pebokulu'a: Tradisi yang dilakukan untuk merayakan potong rambut bayi.
Pepokolapasi'a: Tradisi yang dilakukan untuk mengenang kematian seseorang.
6. Tradisi Lainnya
Tari Tradisional: Masyarakat Wawonii memiliki beberapa tari tradisional seperti Tari Kolungku.
Musik Tradisional: Masyarakat Wawonii memiliki beberapa alat musik tradisional seperti Gendang dan Suling.
Tradisi-tradisi tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya dan adat istiadat masyarakat Wawonii yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Referensi:
Susanto Zuhdi, Sejarah Buton yang Terabaikan Labu Rope Labu Wana (Edisi Revisi), Jakarta, Wedatama Widya Sastra, 2018.
Damme, Masuknya Agama Islam di Kendari, Majalah Lulo; Museum Negeri Sultra, 1997.
Sejarah Kerajaan Wawonii, oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sulawesi Tenggara.
Kerajaan Wawonii, oleh Ensiklopedia Indonesia.
Sejarah Sulawesi Tenggara, oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sulawesi Tenggara.
Sejarah Sulawesi Tenggara, oleh Prof. Dr. Laode Ida.
Ensiklopedia Sulawesi, oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara.
Sejarah Kesultanan Ternate, oleh Prof. Dr. H. J. de Graaf.
Sejarah Indonesia Modern, oleh M.C. Ricklefs.
DI/TII: Gerakan Separatis Islam di Indonesia, oleh B. Simanjuntak.
Pemberontakan DI/TII di Sulawesi Tenggara, oleh J. Tirtosudiro.



Komentar
Posting Komentar